
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meninjau kondisi kesehatan warga di kawasan padat penduduk Kapuk Muara, Penjaringan, Jakarta Utara, Kamis (13/8). Salah satu lokasi yang ditinjau merupakan pondok pesantren.

Budi mengatakan, skrining TB akan diperluas ke lingkungan pondok pesantren dan permukiman padat penduduk. Menurutnya, kepadatan tempat tinggal dan aktivitas bersama dapat meningkatkan risiko penularan TB (tuberculosis). “Ternyata ada 42.000 pondok pesantren dengan jumlah santri mencapai lebih dari 7 juta. Karena pesantren itu padat tempat tinggalnya dan bersama-sama, insiden TB (tuberculosis) menjadi lebih besar,” kata Budi.
Untuk memperluas jangkauan skrining, pemerintah akan memanfaatkan teknologi rontgen yang dilengkapi artificial intelligence (AI). Menurut Budi, perangkat tersebut dapat dibawa ke berbagai lokasi sehingga pemeriksaan tidak hanya dilakukan di fasilitas kesehatan. “Sekarang kita akan jalan dari pesantren ke pesantren untuk mencari penderita TB (tuberculosis). Kalau diobati pasti sembuh dan tidak menular,” ujarnya.

Budi menargetkan skrining TB (tuberculosis) dapat dilakukan di seluruh pondok pesantren di Indonesia. Program tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperluas deteksi dini dan pengobatan TB (tuberculosis). Menurutnya, tantangan dalam penanganan TB (tuberculosis) masih terletak pada rendahnya deteksi dini, sehingga banyak kasus baru diketahui setelah kondisi penderita memburuk. Padahal TB (tuberculosis) dapat disembuhkan apabila terdeteksi dan ditangani dengan pengobatan yang tepat.
“Masalahnya bukan obatnya tidak ada. Obatnya ada dan manjur. Masalahnya adalah tidak ketahuan kalau dia sakit TB (tuberculosis) karena skrining terlambat atau tidak dilakukan,” kata Budi.