Peningkatan Kewaspadaan Penyakit Infeksi Potensial KLB/Wabah di Pelabuhan Tanjung Priok

Peningkatan Kewaspadaan Penyakit Infeksi Potensial KLB/Wabah di Pelabuhan Tanjung Priok

 

Jakarta – Memasuki Minggu Epidemiologi ke-23 tahun 2026, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Penanggulangan Penyakit mengeluarkan laporan situasi terkini penyakit infeksi emerging dan potensial Kejadian Luar Biasa (KLB) atau wabah. Berdasarkan laporan tersebut, terdapat peningkatan kewaspadaan global terhadap sejumlah penyakit menular berisiko tinggi yang berpotensi masuk ke Indonesia, khususnya melalui pintu masuk internasional seperti Pelabuhan Tanjung Priok.

Situasi Global Penyakit Infeksi Emerging Risiko Tinggi

Berdasarkan laporan Situasi Global Penyakit Infeksi Emerging pada Minggu Epidemiologi ke-22 tahun 2026, sejumlah penyakit dengan status risiko tinggi mencatat penambahan kasus signifikan di berbagai negara, termasuk di kawasan ASEAN dan negara tetangga . Beberapa penyakit yang masuk dalam kategori risiko tinggi karena terdapat laporan konfirmasi dan/atau kematian di negara ASEAN, Jepang, Korea Selatan, Cina, dan Papua Nugini antara lain:

  1. COVID-19: Tercatat penambahan 1.722 kasus konfirmasi dan 34 kematian pada periode M20-M22 2026, dengan tiga negara pelapor terbanyak di kawasan ASEAN dan sekitarnya yaitu Cina, Korea Selatan, dan Indonesia.
  2. Legionellosis: Penambahan 265 kasus konfirmasi di 9 negara termasuk Jepang, Singapura, dan Thailand.
  3. Penyakit Meningokokus: Penambahan 147 kasus konfirmasi di 10 negara termasuk Thailand, Jepang, dan Australia.
  4. Mpox: Penambahan 77 kasus konfirmasi di 9 negara termasuk Singapura.
  5. Penyakit Virus Hanta: Penambahan 5 kasus konfirmasi di Panama, Korea Selatan, dan Inggris.
  6. Avian Influenza A(H9N2): Penambahan 1 kasus konfirmasi di Cina.

Selain itu, terjadi wabah Penyakit Ebola yang telah ditetapkan sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) oleh WHO pada 17 Mei 2026, dengan total 695 kasus konfirmasi dan 138 kematian di Republik Demokratik Kongo dan Uganda . Wabah ini disebabkan oleh strain Bundibugyo virus yang belum memiliki vaksin atau pengobatan spesifik yang disetujui . Konflik bersenjata di wilayah timur Kongo memperumit upaya penanggulangan dan berisiko menyebarkan virus ke negara-negara tetangga .

Situasi Penyakit Infeksi Nasional yang Perlu Diwaspadai

Di tingkat nasional, hingga Minggu ke-22 tahun 2026, terdapat beberapa penyakit yang memerlukan perhatian khusus karena tren peningkatannya:

  • Penyakit Virus Hanta: Tercatat sebagai satu-satunya Penyakit Infeksi Emerging (PIE) dengan kategori risiko Sedang di Indonesia, dengan penambahan 11 kasus suspek di berbagai kabupaten/kota.
  • KLB Campak: Kabupaten Asmat menyatakan KLB campak dengan Surat Keputusan Bupati yang sedang dalam proses verifikasi.
  • Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR): Terjadi peningkatan signifikan dengan 92.376 kasus hingga minggu ke-22 tahun 2026, meningkat dari 75.304 kasus pada periode yang sama di tahun 2025.
  • Penyakit Tular Vektor: Suspek Chikungunya sempat melonjak drastis pada awal 2026 dengan puncak kasus tertinggi di M3 (484 kasus), sementara suspek Dengue menunjukkan tren yang relatif tinggi .
  • PD3I: Kasus suspek Campak menunjukkan lonjakan signifikan pada Minggu ke-14 dan ke-15 tahun 2026 .

Selain itu, Kementerian Kesehatan juga memantau perkembangan Influenza A/H3N2 Subclade K yang telah terdeteksi di 15 provinsi di Indonesia, dengan kasus terbanyak di Jawa Timur dan Kalimantan Selatan . Meskipun belum terbukti menyebabkan penyakit yang lebih berat, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat varian ini telah menyebar secara global .

Notifikasi IHR dan Kewaspadaan di Pelabuhan Tanjung Priok

Berdasarkan laporan notifikasi IHR (International Health Regulations) minggu ke-23 tahun 2026, negara-negara yang paling aktif menotifikasi adalah Sri Lanka (37%) dan Australia (19%), dengan topik utama Tuberkulosis (54%) dan Campak (29%) . Hal ini berkaitan dengan mobilitas pelaku perjalanan, khususnya kasus dengan riwayat tinggal atau perjalanan di Indonesia, kontak erat pada penerbangan internasional, dan relokasi pasien lintas negara.

Sebagai pintu masuk utama bagi lalu lintas internasional, Pelabuhan Tanjung Priok memiliki peran strategis dalam mencegah masuknya penyakit-penyakit tersebut ke Indonesia. IHR NFP Indonesia telah menindaklanjuti notifikasi terkait kontak erat Hantavirus yang berhubungan dengan klaster MV Hondius melalui koordinasi lintas sektor untuk pelaksanaan investigasi epidemiologi, pemantauan kesehatan, pemeriksaan laboratorium, dan observasi medis .

Langkah-Langkah Respon Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan Tanjung Priok

Menghadapi potensi masuknya penyakit infeksi emerging, Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Tanjung Priok telah menyiapkan sejumlah langkah respons:

  1. Deteksi Dini dan Surveilans: Pemantauan dan verifikasi tren kasus Influenza Like Illness (ILI), Severe Acute Respiratory Infection (SARI), ISPA, dan pneumonia melalui sistem SKDR. Pemeriksaan laboratorium dan Whole Genome Sequencing (WGS) untuk identifikasi varian .
  2. Pemantauan Pelaku Perjalanan: Melakukan pemantauan pelaku perjalanan dari negara terjangkit, termasuk screening di pintu masuk pelabuhan . Kapal yang datang dari pelabuhan luar negeri harus melalui pemeriksaan dan mendapatkan Certificate of Pratique sebagai izin bebas karantina .
  3. Koordinasi Lintas Sektor: Melakukan koordinasi dengan berbagai instansi terkait di lingkungan Pelabuhan Tanjung Priok, termasuk Imigrasi, Bea dan Cukai, Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP), dan instansi lainnya untuk pengawasan terpadu .
  4. Pelatihan Tim Khusus: BBKK Tanjung Priok telah menyelenggarakan pelatihan intensif bagi petugas epidemiologi untuk diteksi dan surveilan penyakit, entomolog dan sanitarian untuk meningkatkan kemampuan dalam surveilans vektor penyakit hingga penanganan KLB keracunan pangan .
  5. Kesiapsiagaan Menghadapi Ebola: Meskipun risiko penyebaran global masih rendah dan risiko regional Afrika rendah, kewaspadaan ditingkatkan karena penyebaran pada negara yang berbatasan darat dengan RD Kongo dan Uganda dinilai tinggi .

Fokus Minggu Ini: Ebola dan Flu A/H3N2 Subclade K

Penyakit Ebola di RD Kongo dan Uganda

Wabah Ebola yang disebabkan oleh strain Bundibugyo virus telah ditetapkan sebagai PHEIC oleh WHO . Hingga 12 Juni 2026, tercatat 695 kasus konfirmasi dengan 138 kematian di RD Kongo dan Uganda . Penyebaran ke wilayah yang dikuasai kelompok pemberontak M23 di Kongo timur memperumit upaya penanggulangan . BBKK Tanjung Priok meningkatkan kewaspadaan melalui pemantauan pelaku perjalanan dari negara terjangkit, penilaian risiko sesuai situasi, dan komunikasi risiko penerapan PHBS .

Influenza A/H3N2 Subclade K

Varian influenza musiman ini telah terdeteksi di 15 provinsi di Indonesia, dengan 3 kasus kematian di Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Jawa Tengah . Berdasarkan analisis WHO, subclade K tidak menunjukkan peningkatan keparahan dibandingkan varian lainnya, tetapi tetap perlu diwaspadai . Pemeriksaan spesimen melalui RT-PCR dari swab nasofaring dan orofaring dilakukan melalui Surveilans Sentinel ILI-SARI .

Tips Kewaspadaan dan Himbauan bagi Masyarakat

Menghadapi potensi masuknya penyakit infeksi emerging, masyarakat diimbau untuk:

  1. Menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS): Selalu mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer, dan menerapkan etika batuk/bersin untuk menghindari penularan kepada orang lain .
  2. Menggunakan Masker: Bagi yang mengalami gejala pilek atau batuk, serta kelompok rentan seperti lansia dan penderita komorbid, disarankan menggunakan masker .
  3. Vaksinasi: Bagi pelaku perjalanan dan kelompok berisiko tinggi seperti tenaga kesehatan, lansia, ibu hamil, dan individu dengan penyakit kronis, dianjurkan melakukan vaksin influenza setahun sekali untuk mencegah flu musiman .
  4. Segera Periksa ke Fasilitas Kesehatan: Jika mengalami gejala demam, batuk, nyeri tenggorokan, pilek, sakit kepala, nyeri otot, dan lemas, segera periksakan diri ke Puskesmas atau Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) .

Dengan meningkatnya kewaspadaan dan koordinasi lintas sektor, diharapkan potensi masuknya penyakit infeksi emerging melalui Pelabuhan Tanjung Priok dapat diminimalisir demi melindungi kesehatan masyarakat Indonesia.

 

Dr. Anak Agung Ngurah Kusumajaya, SP., MPH.
Kepala Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan Tanjung Priok

 

Share
WhatsApp
BALAI BESAR KEKARANTINAAN KESEHATAN TANJUNG PRIOK - Berkomitment sebagai Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) Menuju Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM)     •     BALAI BESAR KEKARANTINAAN KESEHATAN TANJUNG PRIOK - Berkomitment sebagai Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) Menuju Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM)